Welcome to Rinna Fridiana's Notes

Wednesday, November 9, 2011

Harga Diri

Saat seorang teman berujar, "Tapi itu kan harga diri kita yang dipertaruhkan. Di mana harga diri kita?" Saya sempat merenung dan memikirkan makna dibalik kata-kata itu. Saya bukan orang pintar yang pandai mengurai makna, apalagi bila diminta untuk mempersepsikan barisan kalimat bahasa Indonesia menurut tata bahasa yang benar, saya lebih sering menyerah. Saya lebih suka merasakan setiap kalimat.

Sebaris kalimat tanya di atas yang sesungguhnya sederhana saja dan seringkali digunakan oleh kebanyakan dari kita saat kita dilibatkan secara emosi oleh suatu masalah yang melibatkan hati kita dan menorehkan luka yang kemudian menantang kita, maka kita mulai bicara soal harga diri. Dan bicara soal harga diri seseorang, menurut saya ini sangat relatif antara satu orang dengan orang yang lain.

Jika kita perhatikan tayangan TV dimana seorang selebriti ribut dengan rekannya atau pasangan hidupnya, kemudian yang satu menjelekkan yang lainnya dengan alasan membela harga dirinya, apakah patut kita juga melakukan hal yang sama? Saat kita bicara mengenai harga diri ini, benarkah pembelaan akan selalu menaikkan harga diri kita jauh lebih tinggi dari sebelumnya? Bukankah pembelaan dengan cara yang salah malah akan merendahkan martabat kita sendiri?

Sunday, November 6, 2011

Sebuah Tanggung Jawab

Sepulang kerja, saat berjalan-jalan di sebuah mall bersama teman sekantor, kami melewati sebuah toko yang menjual aneka akuarium lengkap dengan ikan dan kura-kura. Lama berada di situ untuk melihat-lihat, saya dan teman saya sepakat untuk membeli kura-kura yang pada waktu itu dijual dengan harga diskon, lengkap dengan kandang dan makanannya.

Menurut penjual toko, kura-kura kecil itu berusia 3 bulan dan sudah tidak rentan lagi alias sudah cukup kuat untuk dipelihara dan dipisahkan dari induknya. Memang, kami agak sedikit khawatir, kalau sudah dibeli, jangan-jangan setelah sampai di rumah malah langsung mati. Namun, dengan gaya penjual yang selalu memikat dan juga keinginan besar kami untuk memelihara kura-kura, maka jadilah teman saya membeli seekor kura-kura dan saya membeli sepasang kura-kura.

Esok harinya, teman saya memang benar-benar membawa kura-kura itu ke kantor. Sementara saya, terpaksa meninggalkan kura-kura milik saya di rumah karena anak-anak bersikeras akan merawat dan menjaganya. Walaupun saya katakan bahwa memelihara kura-kura itu tak semudah persangkaan mereka, namun mereka tetap berkeyakinan mampu menjaganya dan berjanji memberi makan tepat waktu serta bersedia mengganti air dan mencuci kandang dua hari sekali. Meski saya menyangsikan komitmen mereka, namun saya merasa harus memberi mereka kesempatan untuk belajar bertanggung jawab.

Saturday, November 5, 2011

Memohon Keajaiban

Ketika masalah demi masalah terasa menghimpit dada kita, menciptakan nyeri yang dalam, membuat mata kita membasah, dan menjadikan kita merasa berat melangkah di kehidupan ini. Pada umumnya kemudian kita merasa bahwa kehidupan seperti tak adil dalam membagi rasa ini. Lingkungan seperti tak adil memperlakukan kita dimana kita merasa sudah melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, namun hasilnya seperti kesia-siaan belaka ketika orang lain justru menilai kita dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang kita harapkan.

Apa yang bisa kita lakukan?

Friday, November 4, 2011

Jangan Simpan Dendam

"Kebencian atau dendam tidak menyakiti orang yang tidak anda sukai. Tetapi setiap hari dan setiap malam dalam kehidupan Anda, perasaan itu menggerogoti Anda." (Norman Vincent Peale).

Thursday, November 3, 2011

Tengoklah ke dalam Hatimu

Sejak kecil, saya dekat sekali dengan bapak, hampir dalam setiap tugas-tugas sekolah yang tidak bisa saya selesaikan sendiri, saya selalu minta bantuan bapak. Hingga kuliah diploma saja, saya masih sering diantar jemput olehnya. Hubungan kami yang erat membuat saya tidak pernah segan atau malu menceritakan masalah-masalah pribadi seputar masalah remaja padanya, walau tentu saja tidak semua pandangan serta jalan keluar yang diusulkan beliau dengan serta merta saya ikuti. Lahir dari latar belakang serta pengalaman yang berbeda membuat saya dulu sering berpikir bahwa beliau seorang yang kolot, namun kesederhanaannya, kesabarannya dalam menghadapi hidup, selalu membuat saya tercengang dan pada akhirnya mengagumi beliau.

Bapak saya asli anak seorang petani, jauh di desa terpencil di Jawa Tengah sana. Hingga saat ini, hampir seluruh sanak saudaranya masih bertani, begitu juga dengan adik dan kakak-kakaknya, sementara beliau memilih ke luar dari desanya untuk membuat 'terobosan', begitu istilah beliau setiap kali bercerita tentang asal mula ada di Bandung. Bapak saya memilih jadi anggota ABRI, yang katanya berjuang sama kerasnya dengan petani, namun memiliki tantangan keluar lebih banyak.

Wednesday, November 2, 2011

Pekerjaan

Pekerjaan memang terasa ringan jika tidak dikerjakan.Terus jika tidak dikerjakan, apakah bisa selesai dengan sendirinya? Maunya sih sulap salip susulapan : sim salabim jadi apaaa prok prok prok !!
 
Nyatanya.. kalo ga dikerjain, yaaa.. jadi numpuk deh, jadi makin repot deh, jadi nambah uring-uringan karena merasa kerjaan kebanyakan dan merasa paling sibuk sedunia padahal semua gara-gara gak dicicil dikerjain, gara-gara ditunda, gara-gara gak bisa ngatur mana yang prioritas dan tidak… hasilnya? Manyun seharian
Lucunya, akibat-akibat itu semua kita keluhkan terus menerus tanpa merasa perlu merubah segala sesuatunya agar jadi lebih baik… misalnya; mulai dengan tidak menunda pekerjaan, memilah-milah yang mana yang didahulukan dan yang mana yang bisa ditunda, mulai mengatur dan mengontrol diri untuk tetap produktif meski didepan mata kesempatan bersantai ria dan berleha-leha senantiasa terbuka…

Hmm.. pekerjaan jadi terasa ringan juga lho jika kita mengerjakannya dengan senang, melihat pekerjaan sebagai tantangan yang bernilai bagi diri kita… mulailah dengan mencintai pekerjaan, kalo gak cinta, kalo bosan, saya biasanya suka mengingatkan diri saya bahwa kerja itu ibadah, bahwa hasil kerja saya buat anak-anak saya… jadi semangat lagi deh.

Tuesday, November 1, 2011

Berpikiran dari Sudut Pandang Lawan

Status seorang teman di salah satu media sosial :
“Kadang dalam menghadapi suatu konflik, alangkah lebih baiknya jika kita berpikiran dari sudut pandang lawan kita agar kita bisa lebih bijak dalam menghadapinya. Tapi jika kita tidak tau pandangan lawan bahkan untuk membuka komunikasi dengan lawan kita saja tidak bisa, apa yang bisa kita usahakan lagi ?”

Teman muda saya ini lumayan kritis, banyak sekali yang ditanyakan pada saya, semua coba saya jawab meski kadang musti agak mikir juga jawabannya (heuheu pengaruh usia, katanya beda usia berarti beda cara pandang). Tidak semua jawaban saya diterima, banyak juga yang didebatkan dan pada akhirnya kami memilih abu-abu saja (sesuai keyakinan masing-masing, hehe). Yang jelas, kami saling belajar.